Sumber : http://blog-rye.blogspot.com/2012/12/cara-mencegah-copas-copy-paste-di-blog.html#ixzz2S3V6vvb4 Sumber : http://blog-rye.blogspot.com/2012/12/cara-mencegah-copas-copy-paste-di-blog.html#ixzz2S2YDq89M
Mari berbagi, menginspirasi, menjadi pribadi yang bermanfaat untuk diri sendiri mahupun untuk sesama manusia. Sebagai rasa syukur pada Tuhan semesta alam dan untuk bangsa tercinta, Indonesia.




Wednesday, 1 May 2013

Harapan di balik penciptaan Garuda.


Garuda Pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot proklamasi
Setia berkorban untukmu

                                 GARUDA PANCASILA ( LAGU NASIONAL INDONESIA )







Semua orang Indonesia tahu apa lambang negara Indonesia. Apakah semua orang Indonesia tahu siapa penciptanya ? Pencipta lambang Garuda adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul
Hamid Alkadrie.

Sultan Hamid II adalah putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di
Pontianak tanggal 12 Juli 1913, berdarah Indonesia-Arab dan pernah dibesarkan di Inggris. Beliau mempunyai seorang istri seorang perempuan Belanda, dan kedua anak beliau tinggal di Belanda. Sultan Hamid II adalah Sultan ke 8 Pontianak ini juga adalah orang Indonesia pertama yang berpangkat tertinggi di dunia militer, yaitu Mayor Jendral. Beliau meninggal dunia pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan
di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, beliau diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Beliau memilih lambang Garuda, karena mengacu kepada ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Setelah sepakat memilih rancangan, Ir. Soekarno, mengusulkan untuk mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika", Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih "gundul" dan tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald Eagle (Lambang Negara Amerika Serikat). Sampai sekarang, Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak, tanah kelahiran Sultan Hamid II.
Lambang Garuda mencerminkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai kendaraan Wishnu, Garuda juga memiliki sifat Wishnu sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta. Dikisahkan, Garuda tewas karena menolong ibunya dari bangsa Kardu ( Ular ) yang merupakan musuh bebuyutannya. Rasa sayang Garuda pada ibunya, adalah cerminan bahwa Cinta dan Sifat Rela berkorban lah yang diharapkan para petinggi bangsa terdahulu kepada rakyat Indonesia. Perlu berabad-abad untuk menyatukan Nusantara ini. Para pejuang terdahulu telah membayarnya dengan darah, nyawa, uang, harga diri, keringat, dan semangat mereka yang berapi-api. Sepatutnya kita jadikan sifat rela berkorban ini sebagai sesuatu yang menyenangkan dan suka cita bagi kita sendiri. Kita bisa berkorban dalam banyak perkara, mendahulukan kepentingan bersama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang bisa kita punyai, dan masih banyak pengorbanan yang kita lakukan. Berkorban bukan hal yang mudah dilakukan. Tak banyak dari kita yang berani berkorban meskipun kesempatan dan kemampuannya ada. Kita sering terlalu berhitung saat mau berkorban. Karena itu, keberanian kita berkorban berhubungan dengan sikap dan nilai kehidupan kita sendiri.

Dan juga, perlu dilandasi dengan cinta akan nasionalisme, niscaya kita akan kembali berjaya seperti Sriwijaya ( abad ke 7 ), Majapahit ( abad ke 14 ), dan saatnya Indonesia ( abad 21 ). Inilah saat yang paling tepat untuk kebangkitan Indonesia. Kita perlu menanamkan sikap cinta nasionalisme yang tinggi untuk Indonesia yang makmur.




No comments:

Post a Comment