Semua makhluk di dunia memerlukan proses dalam mencapai pencapaian hidup. Ulat berproses menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu, padi harus berpanas-panasan sebelum bisa dimasak menjadi nasi, anak kecil yang sedang merangkak sekalipun harus jatuh bangun sebelum bisa berjalan. Memang tidak ada yang instan. Semua ada perjalanannya dan berliku-berliku. Maka dari itu, alangkah buruk sekali jika menilai orang lain hanya berdasarkan persepsi diri sendiri. Kita tidak pernah tahu, perjuangan seperti apa yang tengah dihadapinya. Apakah melawan nafsu dan ego diri sendiri? Apakah menentang orang lain dan lingkungan? Apakah mereka sedang menempuh cara-cara pahit dalam sukses? Atau bisa jadi sedang terlena menikmati bisikan-bisikan setan? Jangan sampai kita melupakan, kalau mereka juga berproses.
Hidup adalah perjalanan proses, dan dalam berproses, Tuhan berikan sebuah kekuatan bernama PILIHAN berdasarkan akal pikiran dan hati. Mau berproses dari yang buruk ke yang lebih baik, atau dari pribadi yang baik menjadi pribadi yang lebih buruk, semua tergantung pilihan yang telah dibuat. Manusia adalah sama, tidak ada perbedaan di mata Allah akan ragam bentuk manusia di muka bumi ini, yang membedakan hanyalah taqwa dan amal sholeh. Allah SWT berfirman:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS [49] al-Hujurat: 13).
Kita manusia tidak pernah luput dari dosa dan khilaf. Dan itu sudah menjadi sesuatu hal yang sudah dimaklumkan Tuhan. Supaya manusia selalu mengingat Tuhan, supaya manusia tidak terlalu sombong berdiri di atas bumi ini. Banyak manusia yang ingin selalu merasa benar, memandang salah dan rendah orang lain. Ingat, hidup ini bagaikan roda. Masa depan adalah rahasia illahi. Mungkin saja di masa depan orang yang kita anggap rendah bisa menjadi pribadi yang lebiih sukses daripada kita. Mungkin saja orang yang biasa kita nilai negatif jauh lebih mulia di mata Tuhan ketimbang diri sendiri, berproses dari keburukan hingga kebaikan melumurinya. 1 amal ikhlas karena Allah jauh lebih mulia daripada ribuan amal karena pujian manusia. Sebelum menilai orang lain, mari berinstropeksi, memperbaiki diri sendiri. Tidak ada salahnya jika berkaca sebentar, sudah sejauh mana diri ini melangkah. Apakah hubungan kita sudah cukup baik dengan Tuhan dan manusia? Jika dirasa masih banyak kesalahan pada manusia dan Tuhan, bertaubatlah. Berdoalah pada Tuhan, agar Tuhan mau membimbing diri ini. Panah hidayah Tuhan, menancap pada orang yang dihendakiNya. Semoga kita termasuk orang yang diridhoiNya.

No comments:
Post a Comment