Jangan menganggap arrogant bila
orang yang lama merantau sudah susah berbahasa ibu.
Faktor paling besar yang
membentuk diri seseorang adalah lingkungan (budaya, orang2 sekitar) dan bentuk
informasi yang diterima (dalam bahasa apa, serta topik informasinya).
Ada perubahan
signifikan pada sistem berpikir dan alam bawah sadar seseorang jika sudah
pernah tinggal di luar kampung halaman. Ini disebabkan faktor lingkungan tadi,
kita adalah apa yang kita ulang - ulang.
Jadi, ketika berjumpa dengan
sanak saudara yang kembali pulang setelah merantau, bahasa yang digunakan sudah
berbeda, hal ini wajar sebenarnya.
Ini merupakan refleksi pengalaman
pribadi. Dulu saya memandang aneh ketika mengganggap orang Minang yang lama di
Jakarta sudah tidak bisa berbahasa Minang atau ngomongnya campur - campur. Semestinya buat biasa saja, meski sudah lama di luar semestinya bahasa ibu harus ingat.
Namun setelah merasakan sendiri, ternyata ini tidak mudah.
Bahasa ibu tentu masih ingat,
namun pengucapannya yang sedikit menantang. Ketika saya merasakan sendiri, saat sudah lama di Malaysia, menggunakan bahasa Melayu dan Inggris,
ketika berbicara bahasa Indonesia bunyinya lebih mirip melayu. Lebih bagus
menulis bahasa Indonesianya karena bisa berpikir saat menulis.
Bagi orang Indonesia yang tinggal
di negara lain juga, bahasa Inggrisnya/bahasa negara tersebut mungkin lebih
lancar dari bahasa Indonesia. Atau bahkan bule yang sudah lama di Indonesia, lebih sering berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Inggris, Bahasa Indonesianya pasti lebih bagus.
Dunia memang luas, lingkungan nya bermacam - macam. Pilihlah
lingkungan (tempat merantau) yang membangun. Jadi ketika akan kembali, bisa
menjadi kebanggaan orang kampung :)
: Hikmah saat lebaran di Jakarta. Baru kali ini lebaran besar komplit, semua yang dari perantauan pulang. Logatnya campur - campur. Haha
No comments:
Post a Comment