Pertanyaan untuk Diaspora ketika lebaran:
''Nanti kerja di Indonesia atau diluar?
''iih tidak mahu balik Indonesia, tidak nasionalisme''.
''ngapain berkontribusi di negara luar? Aneh deh''.
Macam - macam prasangka/komentar orang. Sebenarnya tidak salah, namun banyak orang belum paham. Cara orang melihat sesuatu berbeda.
Bicara tentang nasionalisme dan kontribusi adalah memberikan dampak positive pada negara sendiri. Tidak usah pakai teori cintailah Indonesia, namun bicaralah dengan karya. Apa yang bisa diberikan untuk Indonesia dan masyarakatnya?
Kita tahu bila bicara dari konteks meraih impian, impian tiap orang tidaklah sama. Cara meraihnya juga berbeda. Ada yang perlu tinggal di Indonesia, ada yang harus di luar negeri. Sebagai contoh: Duta besar, perwakilan perusahaan lokal di negara luar dan lain - lain. Meski sudah di luar, masih tetap bisa berkontribusi kan?
Membangun Indonesia tidak harus dari Indonesia.
Masalah Indonesia ini banyak, termasuk cara berkontribusinya. Ada masalah pembangunan, birokrasi, ekonomi, politik dan lain - lain. Termasuk menjaga nama baik bangsa. Nama baik ini adalah apa yang orang pergunjingkan di belakang, bukan apa yang dicitrakan di social media. Disinilah peran Diaspora, orang yang tinggal di negara lain. Bisa menjadi ambassador yang membuat warga negara lain tetap ''bergunjing'' yang baik tentang Indonesia. Bila mereka menilai Indonesia itu indah, orangnya ramah. Tentu mereka akan berkunjung.
Lain dari itu, selain dari urusan pribadi dan alasan yang membuat terpaksa balik kampung, tentu tidaklah effektif bila kembali ke Indonesia namun kontribusinya tidaklah banyak. Yang lebih buruk sudah pernah berkarir di luar negeri, namun kembali ke Indonesia malah mendatangkan masalah.
Belajar dari kang Ridwan Kamil, umur 25 tahun merantau ke Amerika. Setelah merantau di beberapa negara, pada tahun 2002 kembali ke Indonesia. Mendirikan Urbane, perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain. Setelah itu menjadi walikota, membangun Bandung. Berkat pengalaman international yang dimiliki beliau, lobi - lobi dana tidak hanya dari APBN. Namun juga bantuan dari negara lain. Yang tak kalah unik adalah dapat membangun Little Bandung di negara luar.
Merantau untuk kembali.
Bila memilih berkarir di luar negeri. Kembalilah nanti ketika sudah siap. Ketika sudah menjadi jawaban untuk permasalahan Indonesia. Biarlah lama sedikit, namun matang. Dan yang perlu diingat adalah pembatasan umur menjadi Diaspora. Ketika sudah mencapai umur tersebut, kembalilah guna membangun bangsa.
: Pemahaman nasionalisme itu terpulang pada diri sendiri. Tapi bila tak pulang - pulang, ini baru salah. Emak dan keluarga juga rindu di rumah hahaha
No comments:
Post a Comment